Putri Merida

Pada jaman dahulu, King Fergus dan Ratu Elinor memerintah di  kerajaan DunBroch di Skotlandia. Mereka memiliki tiga anak laki-laki kembar dan satu orang putri yang cantik, yaitu Putri Merida. Namun, keempat anak itu semuanya nakal.

Ratu Elinor mencoba mengajari Merida bagaimana berperilaku seperti putri yang sempurna. Namun, Merida lebih suka menyelinap pergi dari istana untuk berlatih dengan busur dan anak panahnya. Merida adalah pemanah yang sangat ahli sejak kecil.

Suatu malam, Ratu Elinor mengumumkan bahwa tiga klan akan  datang berkunjung. Masing-masing klan akan membawa seorang pangeran untuk melamar Merida. Namun Merida merasa takut, bahkan Merida berteriak menolaknya.

Merida sangat cemas, para pelamar tiba sesuai rencana. Merida duduk menunggu di atas takhtanya untuk mengikuti kontes panahan. Dia tahu, dalam hal memanah dia lebih mahir dari ketiga pangeran yang akan melamarnya.

Setelah semua pelamar melepaskan tembakan panah mereka, Merida berjalan ke tengah arena. Ratu berteriak agar Merida berhenti, namun Merida tidak mendengarkan. Merida lalu melepaskan anak panahnya dan meluncur tepat di tengah sasaran. Dia mengalahkan semua pelamar, dan sekarang dia tidak perlu menikahi siapapun.

Ratu Elinor sangat marah pada Merida, karena telah merusak kontes. Dia memperingatkan bahwa hal-hal perlu diatur dengan benar. Karena marah, kemudian Merida menyobek permadani yang menggambarkan keluarganya dan melarikan diri. Merida melarikan diri jauh ke dalam hutan tempat makhluk biru misterius yang membawanya ke sebuah pondok dan berjumpa dengan seorang penyihir.

Merida kemudian meminta kepada si penyihir untuk mengubah ibunya, kemudian penyihir itu memberi Merida sebuah kue mantra. Setelah menerima kue itu, Merida lalu kembali ke istana.

Setibanya di istana, Merida memberikan kue itu pada ibunya. Dia melihat dengan saksama saat ibunya menggigit kue itu. Awalnya tidak ada yang terjadi, namun kemudian ibunya mulai merasa mual. Merida lalu membantu ibunya tidur yang merasa mual. Hal berikutnya yang Merida ketahui, satu sosok besar berbulu bangkit dari seprai. Ternyata, kue dari penyihir itu telah mengubah ibunya menjadi beruang yang sangat besar.

Khawatir ibunya dalam bahaya, Merida membawa ibunya menyelinap keluar dari istana. Merida dan beruang Elinor segera pergi ke pondok Penyihir, namun mereka hanya menemukan pesan: “Takdir dirubah, lihat ke dalam, perbaiki ikatan yang terkoyak kebanggaan.”

Merida butuh waktu untuk memahami makna pesan itu, tapi untuk saat ini dia perlu mengajari ibunya untuk memancing. Merida menyadari bahwa untuk memperbaiki ikatan dan mematahkan mantra itu, dia harus memperbaiki permadani yang telah dia robek.

Setelah menyelinap ke kastil, Merida dan ibunya ditemukan oleh King Fergus. Menyangka merida dalam bahaya, raja pun menarik pedangnya. Merida berteriak mencoba menghentikan ayahnya, namun ayahnya tidak mau mendengarkan. Dia menebas beruang itu yang memukul balik dan menjatuhkannya ke tanah.

Suara itu menarik para bangsawan dan anak-anak mereka yang berkunjung, karena ketakutan beruang Elinor berlari dari kastil. Merida mengambil jarum, benang, dan permadani lalu melompat naik ke atas kudanya. Dia juga membawa saudara laki-lakinya. Mereka yang telah memakan kue mantra itu kini berubah menjadi anak-anak beruang.

Merida lalu menjahit permadani yang di robeknya saat mereka melarikan diri menyelamatkan ibu mereka. Saat Merida tiba, dia membungkus permadani yang sudah diperbaiki di atas ibunya. Merida pun mengatakan, bahwa dia ingin ibunya Kembali seperti dulu dan dia sayang pada ibunya.

Raja Fergus kaget saat menyadari, bahwa beruang itu adalah istri tercintanya. Merida merasa tangan ibunya menyisir rambutnya. Mantra itu telah musnah, dan kini Beruang Elinor sudah menjadi manusia kembali. Tiga adiknya yang kembar juga sudah berubah menjadi manusia. Ratu pun tersenyum pada Merida. Sejak saat itu, Merida bisa menjadi putri dan menjadi dirinya sendiri tanpa dipaksa kehendak ibunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *